Jika mendoakan agar untuk melupakan,
Bersedialah untuk menghadapi luka yang tidak akan berpenghujung dan membawa hati yang kosong umpama jurang gelap yang dalam, kosong dan sepi
Jika mendoakan agar orang yang disayangi berbahagia dengan lelaki/wanita yang lebih baik
Bersiap sedialah untuk merasakan hati dihiris-hiris dengan belati yang tajam,
Sakit lagi menyiksakan apabila insan yang pernah kita cintai tersenyum riang di samping pasangan yang mampu melengkapkan hati mereka.
Jika mendoakan agar bertemu jodoh yang Manis, matang, mengutamakan pasangan tidak seumpama cinta yang lalu, bersiap
Bersiap sedialah untuk dikecewakan apabila kau sedari, kau bukan satu-satunya yang dilayan begitu.
Apa sahaja yang kita impikan, kita doakan, pastikan kita mampu menghadapi kesan dan akibatnya.
Dan bila kau diuji, tanpa peneman di sisi, kau kembali kepada sejadah, memohon agar luka yang tidak akan pernah sembuh ini, dipulihkan.
Merayu dan menangisi kebodohan yang lampau, dosa yang dulu, dan kekhilafan diri sendiri. Mengemis agar luka hati yang bernanah ini disucikan, agar kau bisa senyum esok harinya.
Benar, kau bisa menceritakan gundah hatimu kepada yang sudi mendengar, tapi hanya Yang Maha Esa saja bisa meredakan gejolak hatimu yang berpusar bagaikan taufan.
Ini yang terjadi bila kau meletakkan pengharapan yang tinggi kepada manusia. Akan ada saja insan yang menghancurkan pengharapan itu, musnah berderai bagai kaca yang berserpihan di atas lantai,
Luka, air mata dan penyesalan yang menjadi peneman malam ini.
Allah redakan kesakitan di hati serta jasmaniku ini. Terpaksa mengorbankan puasa lantaran gastritis bukanlah impianku untuk Ramadhan kali ini. Ya Allah permudahkan setiap satunya.
Aku sudah penat di sini ya Allah. Temukan aku dengan jalan pulang ke kampung halaman. Sudah tidak sanggup aku tinggal di persekitaran yang toksik ini.